"I believe art has the ability to connect people beyond language and cultural differences."

- Suanjaya Kencut

Suanjaya Kencut (b.1994) is a visual artist working primarily with paintings, sculptures and installations. He derived his inspiration from the traditional Balinese art and modern art installations he grew up surrounded by. The dolls are the main subjects in Kencut's work. Suanjaya Kencut is an artist from Bali who currently works in Yogyakarta. His homeland is very influential on all aspects of his paintings even though he doesn't use traditional Balinese painting visuals in his work. However, all the elements in it are related to his subconscious view of Bali. All of his works come from personal experiences of what he saw, felt and expressed. Experience is not only about beautiful things from memories but also experience is not good but sticks. The visuals in his work often present dolls that are innocent and expressionless. The doll came about through various collaborations of subconscious experiences, which were born from childhood experiences regarding religious ceremonies, to small elements that influence aspects of his work.

HELLO SUANJAYA, IT IS OUR PLEASURE TO WELCOME YOU INTO THE 4BYSIX FAMILY. THANK YOU FOR TAKING THE TIME TO CHAT WITH US ABOUT YOUR ART PRACTICE. TO START, PLEASE CAN YOU TELL US HOW YOUR CURRENT VISUAL LANGUAGE FIRST EMERGED AND THE INITIAL DRAW TO USE DOLLS AS A CENTRAL METAPHOR IN YOUR PRACTICE?

My visual language emerged from the visual and spiritual experiences that surrounded me while growing up in Bali. Since childhood, I was constantly exposed to repetitive ornaments, vibrant ceremonial colors, temple decorations, and ritual performances such as Barong. These elements unconsciously shaped the way I understand form, repetition, rhythm, and character.

At the same time, I also became interested in contemporary fashion, fabrics, and modern visual culture, which later influenced the final appearance of my figures. The dolls eventually became a central metaphor in my practice because I see them as flexible symbolic forms; figures that can carry personal memories, social experiences, and emotional reflections at the same time.

Bahasa visual saya muncul dari pengalaman visual dan spiritual yang mengelilingi saya sejak tumbuh di Bali. Sejak kecil saya terbiasa melihat ornamen repetitif, warna-warna upacara yang kuat, dekorasi pura, hingga pertunjukan ritual seperti Barong. Semua elemen itu tanpa sadar membentuk cara saya memahami bentuk, repetisi, ritme, dan karakter.

Di saat yang sama, saya juga mulai tertarik pada dunia fashion kontemporer, kain, dan budaya visual modern, yang kemudian mempengaruhi tampilan akhir figur-figur dalam karya saya. Boneka akhirnya menjadi metafora utama dalam praktik saya karena saya melihatnya sebagai bentuk simbolik yang fleksibel; figur yang dapat membawa ingatan personal, pengalaman sosial, dan refleksi emosional secara bersamaan.

WAS THERE A PARTICULAR DOLL, FROM YOUR CHILDHOOD, CULTURAL SURROUNDINGS, OR PERSONAL EXPERIENCE, THAT FIRST INSPIRED THE DISTINCTIVE FORMS YOU USE IN YOUR PAINTINGS TODAY?

There was not one specific doll that inspired me directly. Instead, the forms came from accumulated visual memories from my surroundings. During large ceremonies in my village, there were often Barong performances and giant ritual figures that deeply fascinated me as a child.

I was also surrounded by repetitive carvings, layered ornaments, colorful fabrics, and decorative objects in Balinese temples and ceremonies. Over time, these visual impressions unconsciously evolved into the distinctive doll-like figures that appear in my works today.

Tidak ada satu boneka spesifik yang secara langsung menginspirasi saya. Bentuk-bentuk itu lebih lahir dari kumpulan ingatan visual dari lingkungan sekitar saya. Dalam upacara besar di desa saya sering ada pertunjukan Barong dan figur ritual berukuran besar yang sangat memikat perhatian saya sejak kecil.

Saya juga tumbuh dikelilingi ukiran repetitif, ornamen berlapis, kain penuh warna, dan berbagai elemen dekoratif dalam pura maupun upacara Bali. Seiring waktu, semua impresi visual itu tanpa sadar berkembang menjadi figur-figur khas berbentuk boneka yang hadir dalam karya saya sekarang.

HOW DO YOU APPROACH THE BALANCE BETWEEN INTRICATE PATTERNS AND COLOUR TO FORM THE EMOTIONAL TONE OF INNOCENCE IN YOUR WORK?

For me, patterns and colors work together emotionally. The repetitive patterns create rhythm and movement, while color becomes the emotional language of the work. Since the figures are intentionally expressionless, color plays an important role in building atmosphere and emotional tone.

I want the works to feel playful and approachable on the surface, but still carry deeper emotional layers underneath. The innocence in my work is not about being childish, but more about openness, honesty, and emotional vulnerability.

Bagi saya, pola dan warna bekerja bersama secara emosional. Pola repetitif menciptakan ritme dan pergerakan, sementara warna menjadi bahasa emosional dalam karya. Karena figur-figur dalam karya saya sengaja dibuat tanpa ekspresi, warna memiliki peran penting dalam membangun suasana dan emosi.

Saya ingin karya-karya tersebut terasa playful dan dekat di permukaan, tetapi tetap menyimpan lapisan emosi yang lebih dalam. Kepolosan dalam karya saya bukan tentang kekanak-kanakan, melainkan tentang keterbukaan, kejujuran, dan kerentanan emosional.

WHAT IS THE PROCESS FOR PLACING YOUR DOLL FIGURES WITHIN DIFFERENT ENVIRONMENTS OR COMPOSITIONS? WHAT DOES THE SETTING HAVE IN SHAPING THE NARRATIVE OR EMOTIONAL ATMOSPHERE OF EACH PIECE?

I see the environment and the figures as inseparable. The setting is not only a background, but part of the emotional structure of the work itself. Through colors, repetitive compositions, symbols, and surrounding objects, I try to create a certain atmosphere that supports the emotional presence of the figures.

Sometimes the compositions feel crowded and energetic, while others feel isolated or contemplative. These environments help shape how viewers emotionally enter the work and interpret the narrative in their own way.

Saya melihat lingkungan dan figur sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan. Latar bukan hanya sekadar background, tetapi bagian dari struktur emosional karya itu sendiri. Melalui warna, komposisi repetitif, simbol, dan objek di sekitarnya, saya mencoba membangun atmosfer tertentu yang mendukung kehadiran emosional figur tersebut.

Kadang komposisinya terasa ramai dan penuh energi, kadang justru terasa sunyi dan kontemplatif. Lingkungan tersebut membantu membentuk bagaimana penonton masuk secara emosional ke dalam karya dan menafsirkan narasinya dengan cara mereka sendiri.

Suanjaya Kencut

Title: "With the Pets - Lazy Cat" 2026

Size: 83 x 83 cm

Materials: Acrylic on tarpaulin

Rarity: Unique

View Auction

YOU RECENTLY MADE A NEW PIECE ON A SHEET OF REPURPOSED LORRY TARPAULIN FOR 4BYSIX’S CURRENT VEHICLES FOR CHANGE. GIVEN THAT THE SUBJECTS IN YOUR WORK APPEAR TO BE TACTILE AND SOFT, HOW DID WORKING ON TARPAULIN’S SURFACE PLAY INTO THAT?

Working on repurposed tarpaulin was a very interesting experience because the material already carried its own history, texture, and physical character. Unlike canvas, the surface is much more slippery, so every layer of the painting process required more time and a different treatment. That challenge pushed me to adapt my usual approach and respond more carefully to the material itself.

I also enjoyed the contrast between the softness of my figures and the raw, industrial quality of the tarpaulin. That tension created a new energy within the work and added another layer of meaning about resilience, movement, and transformation.

Bekerja di atas terpal bekas menjadi pengalaman yang sangat menarik karena material tersebut sudah membawa sejarah, tekstur, dan karakter fisiknya sendiri. Berbeda dengan kanvas, permukaan terpal terasa jauh lebih licin sehingga setiap lapisan dalam proses melukis membutuhkan waktu lebih lama untuk naik dan menempel dengan baik. Karena itu, prosesnya menjadi cukup menantang dan membutuhkan perlakuan yang berbeda dibanding saat saya bekerja di atas kanvas biasa.

Saya juga menikmati kontras antara kelembutan figur dalam karya saya dengan karakter material yang lebih mentah dan industrial. Ketegangan itu menciptakan energi baru dalam karya dan menambah lapisan makna tentang daya tahan, pergerakan, dan transformasi.

CAN YOU TELL US MORE ABOUT THE WORK YOU HAVE MADE AND WHAT ITS INITIAL INSPIRATION WAS?

The work I created features a figure positioned together with a pet or companion animal as a reflection on affection and emotional connection in everyday life. I’ve always been interested in how relationships between humans and animals can carry a very honest sense of comfort, care, and companionship without many conditions attached to them.

The initial inspiration came from the idea that love and connection are not only found in human relationships, but also in the bonds we build with other living beings around us. Through this work, I wanted to create a warm and intimate atmosphere that speaks about togetherness, protection, and the simple emotional connections that often become important parts of life.

At the same time, working on repurposed tarpaulin also added another layer of meaning about transformation and sustainability. I became interested in how discarded materials can be given a new life through art, much like emotional experiences and relationships that continue to evolve over time.

Karya yang saya buat menampilkan figur yang berada di atas hewan peliharaan atau companion animal sebagai refleksi tentang kasih sayang dan hubungan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Saya tertarik pada bagaimana hubungan manusia dengan hewan seringkali menghadirkan bentuk ketulusan, kenyamanan, dan kedekatan yang sangat jujur tanpa banyak syarat.

Inspirasi awalnya datang dari pemikiran bahwa rasa kasih sayang tidak hanya hadir dalam hubungan antar manusia, tetapi juga bisa ditemukan dalam hubungan dengan makhluk hidup lain di sekitar kita. Melalui karya ini, saya ingin menghadirkan suasana hangat dan intim tentang kebersamaan, perlindungan, dan koneksi emosional yang sederhana namun penting dalam hidup.

Di saat yang sama, penggunaan material terpal bekas juga memberi lapisan makna tambahan tentang transformasi dan keberlanjutan. Saya tertarik pada bagaimana material yang telah terpakai dapat diberi kehidupan baru melalui karya seni, sama seperti hubungan dan pengalaman emosional yang terus berkembang seiring waktu.

GIVEN THAT YOU PLAY WITH THE IDEA OF CONNECTION AND SHARED EXPERIENCES, WHAT DREW YOU TO PARTICIPATE IN 4BYSIX’S ETHOS THAT ART CAN BE TO SUPPORT COMMUNITIES? 

I believe art has the ability to connect people beyond language and cultural differences. Much of my work is also rooted in ideas of togetherness, emotional connection, and shared experiences, so the ethos of 4BYSIX feels very close to my own values as an artist.

What especially interested me was how 4BYSIX combines art with social and environmental awareness. They are a non-profit social enterprise that regularly organizes online art auctions to support community projects, including creative workshops for homeless and underprivileged communities. They also invite artists to work on reclaimed and upcycled materials such as discarded lorry tarpaulins and scrap London bus panels.

For me, this approach is meaningful because it shows how art can go beyond personal expression and become part of something larger, creating dialogue, support, and giving new life to materials and experiences that are often overlooked.

Saya percaya seni memiliki kemampuan untuk menghubungkan manusia melampaui bahasa maupun perbedaan budaya. Banyak karya saya juga berakar pada gagasan tentang kebersamaan, koneksi emosional, dan pengalaman bersama, sehingga visi 4BYSIX terasa sangat dekat dengan nilai yang saya pegang sebagai seniman.

Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana 4BYSIX menggabungkan seni dengan kesadaran sosial dan lingkungan. Mereka adalah organisasi non-profit dan social enterprise yang secara rutin mengadakan lelang seni daring untuk mendukung proyek komunitas, termasuk workshop kreatif bagi komunitas tunawisma dan kelompok kurang beruntung. Seperti yang saya pernah kerjakan sebelumnya untuk berkarya menggunakan material daur ulang seperti terpal truk bekas dan panel bus London yang sudah tidak terpakai.

Bagi saya, pendekatan tersebut sangat bermakna karena menunjukkan bahwa seni bisa melampaui ekspresi personal dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar — menciptakan dialog, dukungan, sekaligus memberi kehidupan baru pada material maupun pengalaman yang sering kali terabaikan.

FINALLY, CAN YOU TELL US HOW LIFE IN THE STUDIO HAS BEEN FOR YOU RECENTLY? ARE YOU WORKING ON ANY NEW AND EXCITING PROJECTS?

Recently, life in the studio has been filled with both reflection and experimentation. Lately, I’ve been exploring new forms as a response to environmental issues, as well as a personal desire to move beyond the limitations of the mediums and forms that have previously defined my practice. I’m interested in seeing how the figures in my work can continue to transform and not only existing on flat surfaces, but also evolving into more immersive, organic forms that are open to new materials and spatial possibilities.

At the same time, I’m also preparing another medium as an extension of my expression and concepts, which is sculpture. Although I have made sculptural works several times before, this time I’m producing them in larger quantities for an upcoming solo exhibition while also experimenting with different methods from my previous processes. The experience has been very exciting for me because I’m deeply involved in every stage of the making process. Through three-dimensional forms, I feel I can bring the characters and emotions in my work into a more physical and immersive presence, while also opening new possibilities for the development of my visual language.

Belakangan ini kehidupan di studio dipenuhi dengan refleksi sekaligus eksperimen. Akhir-akhir ini saya sedang mengeksplorasi berbagai bentuk baru sebagai ekspresi terhadap isu lingkungan, sekaligus dorongan untuk keluar dari batasan medium maupun bentuk yang selama ini melekat pada praktik saya. Saya tertarik melihat bagaimana figur-figur dalam karya saya bisa terus bertransformasi — tidak hanya hadir di permukaan datar, tetapi juga berkembang menjadi bentuk yang lebih imersif, organik, dan terbuka terhadap material maupun ruang baru.

Selain itu, saya juga sedang mempersiapkan medium lain sebagai penyambung ekspresi dan konsep dalam karya saya, yaitu patung. Walaupun sebelumnya saya sudah beberapa kali membuat karya patung, kali ini saya mengerjakannya dalam jumlah yang lebih banyak untuk kebutuhan pameran tunggal, sekaligus mencoba metode yang berbeda dari proses-proses sebelumnya. Proses ini terasa sangat menarik bagi saya karena saya benar-benar terlibat secara langsung dalam setiap tahap pembuatannya. Melalui medium tiga dimensi, saya merasa bisa menghadirkan karakter dan emosi dalam karya dengan cara yang lebih fisikal dan imersif, sekaligus membuka kemungkinan baru dalam perkembangan bahasa visual saya.